ekonomi politik klasik.

EKONOMI POLITIK KLASIK

Produksi terpenting marx selama di pembuangan adalah DAS KAPITAL. Untuk menempatkan Das Kapital dalam konteks teori-teori ekonomi masa itu, khusus di dalam apa yang dinamakan Marx sebagai ekonomi politik kalsik., di perlukan pemahaman terhadap karya-karya Adam Smith, David Ricardo dan lainnya ahli ekonomi Inggris di akhir abad ke-18 dan awal abad ke 19. Marx membangun karya dan sering merujuk pada karya mereka.

NILAI dan NILAI LEBIH

Ekonomi Politik Klasik, keberadaannya merupakan oposisi terhadap teori-teori yang beraliran merkantilistik abad ke 17 dan 18. Kaum Merkantilistik pada pokok mengutamakan perdagangan luar negeri yang dianggap Marx sebagai hal sekundair.

Sebagai pedagang, meraka berfikir tifikal kapitalis yang keuntungan datang dari membeli murah- menjual mahal. Yang selangkah lebih maju dari pandangan kaum Fisiokrat Prancis abad ke 18. Mereka ini menekankan pentingnya produksi ke banding perdagangan. Tapi mereka menganggap pertanian hanya yang benar-benar produktif. Marx mempelajari teori dan karya kaum merkantilis dan fisiokrat itu dan sewaktu-waktu merujuk pada mereka.

Suatu tema pokok dalam ekonomi Kalsik (didalam didalamnya terdapat karya kaum fsiokrat), adalah pembahasan tentang laba dan sewa dalam pengertian surplus yang datang dari produksi. Ide dasarnya dapat dilihat dalam suatu ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang, katakan jagung. Jagung lalu menjadi sebagai bahan makanan dan juga masukan bagi produksi (seperti bibit). Manakala jagung cukup diproduksi untuk mengganti bibit dan untuk memberi makan para produsennya, maka setiap kelebihan adalah Surplus, yang menggelantungkan diri pada mereka (tentara, pegawai, pendeta dan lain sebagainya).

Pertanyaan yang menarik disini ialah, bagaimana maka surplus itu jatuh ketangan klas penguasa? Eksistensi surplus yang fisikal itu, sudah tentu tak dipersoalkan lagi, karena surplus itu dapat dinikmati para produsen sendiri. Smith, Ricardo dan Marx, semua memberi jawaban yang sama terhadap pertanyaan itu. Didalam suatu masyarakat kapitalis, surplusnya direbut oleh para pemilik kekayaan, karena mereka cukup kaya untuk membeli alat-alat produksi yang diperlukan (tanah, bibit jagung, dalam contohnya yang sederhana) sedangkan para pekerja tidak dapat berproduksi dengan kemampuannya sendiri dan karena itu harus menerima upah apa saja yang mereka dapatkan. Persaingan untuk mendapat pekerjaan membuat upah tetap saja pada batas minimum. Smith dan Ricardo menganggap hal itu sebagai alamiah dan abadi. Tapi Marx menganggapnya sebagai hal yang sementara karena perkembangan masyarakat.

Persoalan selanjutnya haruslah dipertimbangkan. Didalam sistem kapitalis, berbagai barang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tertentu. Setiap perusahaan mengeluarkan uang pembeli alat dan bahan produksi, membayar upah dan menutup pengeluarannya dengan menjual produknya. Seseorang dapat saja berbicara tentang surplus fisikal untuk keseluruhan sistem, tapi tidak untuk satu-satu perusahaan. Laba perusahaan tertentu bergantung pada biaya yang ia keluarkan dan harga yang ia peroleh. Harga barang dapat berubah dari minggu ke minggu atau hari-kehari. Maka itu para ahli ekonomi klasik mengembangkan suatu konsep harga normal atau alamiah, atau nilai dari suatu barang. Surplus yang masuk kepada para kapitalis atau pemilik tanah sebagai nilai lebih adalah kelebihan nilai yang dihasilakan diatas nilai yang diserap oleh biaya-biaya, termasuk upah. Suatu teori nilai lebih punya dua unsur: suatu teori nilai dan penjelasan bagaimana surplus itu disadaap dari para pekerja dan dipindahkan kepada para pemilik kekayaan.

ADAM SMITH

Adam Smith, pengarang dari “THE WEALTH OF NATIONS” (1776) pada umumnya diakui sebagai pendiri ekonomi politik klasik. Ia memberi tekanan khusus pada pembagian kerja sebagai penyebab peningkatan produktivitas dan kesejahtraan. Pembagian kerja memungkinkan setiap produsen berspesialisasi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus yang lebih efisien. Tapi dibatasi oleh luasnya pasar, karena pasar kecil tidak menyediakan ruang bagi spesialisasi. Begitu kekayaan dan populasi bertumbuh, cara transprortasi berkembang maju, dan pasar juga berkembang luas, kesemuanya lalu memungkinkan pembagian kerja lebih terperinci. Dan dengan begitu penghasilan kekayaan semakin besar. Pertumbuhan ekonomi adalah proses akumulatif dimana setiap langkah dari perluasan pasar menyediakan basis untuk pertumbuhan selanjutnya.. Marx menemukan ide tentang proses perkembangan ekonomi terus-menerus dari Smith dan menjadikannya landasan bagi analisanya tentang Kapitalisme.

Harga alamiah setiap produk, menurut Smith adalah sedemikian rupa sehingga ia menutup pengeluaran-pengeluaran untuk upah dan sewa serta menghasilkan laba pada rate pasar yang berjalan. Ia punya analisa pasar yang luar biasa baiknya. Tenaga-tenaga pasar cenderung membawa harga ke garis harga yang alamiah. Manakala harga pasar tinggi, laba akan tinggi. Para produsen akan ditarik ke wilayah bisnis. Suplay dengan demikian juga akan mekar, sedang harga akan ditarik turun kembalili. Sebegitu jauh dan baik, maka Marx telah mengambil banyak dari analisis itu.

Perlakuan Smith terhadap penentuan upah, laba dan sewa lebih banyak dipersoalkan. Nilai, katanya, ditentukan dengan mempertambahkan upah, laba dan sewa. Pada waktu bersamaan, katannya pula, upah, laba dan sewa tergantung pada jumlah keseluruhan nilai yang telah dihasilakan. Dan nilai akan ditemukan dengan membagi mereka. Argumentasinya memutar. Teori Smith tentang laba bagaimanapun sangatlah lemah. Katanya, laba ditentukan oleh atau melalui ‘kompetisi’ tapi ia tidak menyediakan analisis yang koheren bagaimana itu terjadi.

DAVID RICARDO

David Ricardo, seorang pedagang surat-surat berharga dan anggota parlemen Inggris adalah seorang tokoh lainnya dari dunia ekonomi politik klasik. Karyanya ‘PRINCPLES of POLITICAL ECONOMY and TAXATION’ – Prinsip-prinsip ekonomi politik dan pajak – adalah suatu upaya untuk memilah-milah kerangka dasar pemikiran Adam Smith dari kekalutan.

Nilai komoditi menurut Ricardo, ditentukan oleh seberapa banyak tenaga kerja diperlukan untuk menghasilkannya. (dengan beberapa pengecualian, lihat dibawah ini). Suatu perubahan upah, tidak akan merubah nilainya. Tapi merubah sebagian dari nilai yang dihasilkan dan yang akan menunjang upah sebagai lawan laba. Jika upah naik, maka laba menurun. Namun jumlahnya tetap sama. Nilai dari hasil -output – dapat dukur secara bebas dengan cara bagaimana ia dibagi-bagi.

Sesudah mengetahui prinsip ini, kesukaran masih tetap. Pengembalian dari uang yang ditanam, mestilah sama untuk bermacam-macam industri. Sebab, jika tidak, kapital akan mengalir kepada yang lebih menguntungkan seperti juga keterangan Smith. Dimanapun jumlah besar kapital ditanam, ia punya sangkut paut dengan para pekerja yang dipekerjakan, semakin tinggi pula pembagian laba. Maka itu diperlukan harga yang lebih tinggi supaya ia menghasilkan pengembalian kapital yang layak. Harga-harga, karenanya tidak dapat seimbang dengan permintaan tenaga kerja. Ricardo mengakhiri keterangannya dengan alasan bahwa nilai, sebagian besarnya ditentukan oleh tenaga kerja dan bersandar kembali pada posisi dan pandangan Smith.

Marx mengkritik Ricardo atas kegagalannya dalam hal ini dan memberikan pemecahannya sendiri, dengan melibatkan sikapnya terhadap nilai dan harga alamiah (harga produksi dalam istilah Marx) sebagai hal-hal yang sangat berbeda. Nilai ditentukan oleh kerja yang terkandung di dalam produksi, sebagai suatu definisi. Upah dan Laba ditentukan oleh atau dengan membagi nilai yang diproduksi seluruh ekonomi. Dan harga produksi ditentukan dengan menambahkanlaba dan upah untuk setiap barang secara terpisah, demikian menurut Smith. Sedang sirkulasi ia hindari (Walaupun pemecahan yang diajukan Marx, menimbulkan masalah sendiri).

Masalah sewa tetap tinggal sebagai hal yang harus dijelaskan. Menurut Ricardo, sewa itu timbul karena berbagai bidang tanah dengan bermacam taraf kesuburan. Harga produk pertanian haruslah cukup tinggi, agar tanah yang paling buruk dapat menghasilkan laba bagi petani didalam rate yang berlaku. Karena, jika tanah tidak menguntungkan, ia tidak akan ditanami. Dan tanah yang lebih baik yang akan menentukan sewa, karena petani akan bersaing untuk menggunakannya. Sedang si pemilik tanah dapat meminta sewa yang demikian. Marx mengambil oper teori ini, mengembangkannya dan mengolahnya secara tersendiri sampai pada bagian-bagian akhir das Kapital, walau ia menganggapnya sebagai masalah kedua.

Marx menganggap Smith dan Ricardo sebagi perwakilan terbaik dari dunia ekonomi politik. Sesudah Ricardo, para ahli ekonomi jika tidak menyalin ide-idenya, merka hanya cenderung untuk menekankan pentingnya suplai dan permintaan sebagi penentuan harga. Mereka tidak menceritakan kisah-kisah yang masuk akal mengenai pasar-pasar tertentu, tapi meninggalkannya tanpa analisis yang koheren tentang upah, laba dan sewa bagi keseluruhan sistem. Marx menamakan mereka itu sebagai ekonom vulgar dan memperlakukan mereka semaunya. Sebenarnya, adalah mungkin untuk memberikan perhitungan yang koheren bagi kesluruhan sistem ekonomi dalam pengertian suplai dan permitaan, seperti yang telah diperlihatkan Walras pada 1870-an. Tapi ketika itu kesehatan Marx jatuh dan tidak sempat memperlihatkan karya-karya Walras. Marx mungkin saja tidak setuju seandainya ia tahu itu.

UANG

Demi kelengkapan, diperlukan suatu pembicaraan singkat mengenai ekonomi keuangan yang berkembang dalam isolasi relatif dari teori-teori nilai dan nilai lebih. Uang dizaman Marx, didasarkan pada emas (paling sedikit di Inggris dan pusat-pusat kapitalis besar lainnya). Uang kertas telah beredar dan dapat ditukarkan dengan emas. Dan mata uang emas juga beredar. Menurut Marx, nilai uang juga langsung terkait pada nilai emas. Dan emas itu bergantung pada para pekerja yang diperlukan untuk menghasilkan emas itu. (Disaring dari tambang emas). Jadi sama dengan komoditi lain. Dalam hal ini Marx berbeda dengan teori-teori sebelum, ‘teori kuantitas uang’ yang mengaitkan nilai uang pada kuantitasnya dalam sirkulasi. Menurut teori itu, kuantitas yang menentukan nilainya. Menurut Marx, ia berjalan terbalik. Nilai uang yang justru menentukan kuantitasnya dalam sirkulasi.

Perdebatan mengenai keuangan di pertengahan abad ke 19 terpusat pada dampak dikeluarkannya uang kertas. Uang kertas itu bukannya tidak ditukarkan, atau tidak dapat ditukarkan kini, tetapi berjanji akan membayar. Janji ini diberikan bank perorangan yang dikeluarkannya dan dapat pula ditebus dengan emas (dalam bentuk emas). “The Currency School”, adalah aliran yang lebih menyukai adanya pembatasan pengeluaran uang kertas, karena pengeluaran yang terlalu banyak akan membawa kenaikan harga yang akan diikuti krisis keuangan. “The Banking School”, aliran yang tidak melihat adanya bahaya demikian. Dasar mereka ialah setiap kelebihan pengeluaran uang kertas akan kembali kepada bank yang mengeluarkannya untuk disimpan atau ditukar dengan emas. Dalam hal ini Marx menyokong “The Banking School”. Ia berpendapat bahwa krisis finansial adalah gejala dari masalah yang lebih fundamental yang tidak ada sangkutnya dengan kelebihan pengeluaran uang kertas.

PEMBUATAN KAPITAL – The Making of Capital-

Perkembangan Ilmu Ekonomi Marx

Pada tahun 1840, Marx sudah sampai pada suatu pandangan yang tersendiri terhadap kapitalisme sebagai suatu jenis ekonomi yang jelas, dengan suatu jangka hidup terbatas. Pada taraf ini ia mengambil teori ekonomi lain-lain orang yang sudah jadi, menafsirnya kembali dan menmpatkan teori-teori itu kedalam sistem yang bentuk sendiri. Bagian-bagian ekonomi tulisannya ECONOMIC AND PHILOSOPHIE MANUSCRIPTS, — Manuskrip Ekonomi dan Filsafat–. 1844, pada pokoknya terdiri dari kutifan-kutifan Adam Smith dan lainnya.

‘WAGE LABOUR and CAPITAL’ –Kerja Upahan dan Kapital–, terbit tahun 1849, didasarkan pada kuliah-kuliah yang diberikan dalam 1846-47, pada pokoknya masih bersifat Smith dalam struktur keseluruhannya, walau Marx bersifat selektif. ‘Kerja upahan dan Kapital’ kadang-kadang terasa sebagai pemuda untuk memahami Das Kapital, walau sesungguhnya ia menampilkan suatu teori yang rada berbeda. Ia harus dibaca dengan kehati-hatian yang khusus, karena Engels-lah yang telah mengolahnya sesudah Max meninggal demi memberikan kemiripan pada kematangan karya Marx. THE POVERTY of PHILOSOHY (1847), sungguh banyak mengutif Ricardo dan juga dari kalangan “sosialis Ricardian”, sebuah kelompok penulis radikal Inggris.

Dalam 1850-an di London -pembuangan Marx kembali lagi ke ilmu ekonomi. Pertanda penting dari pemikiran Marx masa ini adalah naskah yang telah ditulis pada 1857-58, yang diterbitkan tahun 1933, lama setelah ia meninggal, dengan GRUNDRISSE (foundations). Dasar naskah ini jelas tidak diterbitkan karena sulit dibaca. Isinya melompat dari satu subjek ke subjek lainnya tanpa perencaaan yang jelas. Namun dalam kekacauannya, GRUNDRISSE mengandung semua tema pokok yang ada dalam Das Kapital. Dipertengahan tahun 1850-an, kita melihat sudah matangnya ilmu ekonomi Marx. Pentingnya Grundrisse bagi pembaca modern tidak terletak pada ilmu ekonomi Marx, yang secar lebih baik dikemukakan dalam Das Kapital, tetapi didalam keterangan filsafat yang terjalin didalam Grundrisse, yang jelas lebih banyak ke Hegelannya dari pada didalam Das Kapital. Grundrisse juga merupakan sebuah jembatan antara Das Kapital dengan Karya-karya filsafat marx yang dini.

Kewajiban Marx selanjutnya, menemukan jalan untuk mengemukakan teori yang baru, dalam hal mana ia mengalami kesukaran, Ketika ia mulai dengan “A CONTRIBUTION TO THE CRITIQUE OF POLITICAL ECONOMY”, diterbitkan 1859, sebuah karya yang ternyata tidak lebih dari cicilan pertama. Kekecewaan muncul dari kalangan sahabat-sahabatnya, karena karya itu hanya berurusan dengan hal pertukaran dan uang dan tidak bicara apa-apa tentang hubungan kapital dengan tenaga kerja. Kepada Engels, Marx menulis gambaranya mengenai Das Kapital yang memerlukan 6 Jilid, mencakupi hal-hal kapital tertentu, kerja upahan, pemilikan tanah, negara, perdagangan internasional dan pasar dunia. Yang pertama, tentulah hal kapital yang berkembang menjadi tiga jilid (ditambah tiga jilid lagi mengenai teori nilai lebih) yang tidak pernah selesai, sedang sisanya yang lima tidak pernah dimulai bahkan.

KAPITAL

Sebagian besar penulisan Das Kapital dikerjakan dalam pertengahan 1860-an. Marx menulis rancangan naskah untuk ketiga jilid bersama dengan jilid ke empat mengenai sejarah dari pemikiran dan ide-ide ekonomi (cukup banyak dan luas untuk memenuhi tiga jild, ternyata ketika naskah akhirnya diterbitkan dengan THEORIES of SURPLUS VALUE –Teori-teori Nilai Lebih). Caranya ia menulis, memulai dengan beberapa naskah kasaran tentang tiap topik, kebanyakan ekstrak dari penulis-penulis lain dan sumber-sumber fakta, laporan parlemen dan sebangsanya. Dalam rancangan selanjutnya, ia menyusun kembali bahan-bahan, membuangi banyak kutipan, kecuali dari mana ia mendapatkan bukti-bukti faktual atau ilustrasi untuk bagian-bagian terpenting. Didalam bagian-bagian yang tak selesai dari jilid satu, dua dan tiga, Marx mengikuti naskah-naskah rancangannya terdahulu dan tetap tinggal begitu dalam versi yang diterbitkan. Dalam jilid satu, Marx membuat pernyataan terimakasih atas sumbangan para pendahulunyanya dengan mengutip pernyataannya terdahulu, bahwa ia dapat menemukan setiap ide yang penting. (catatan ini dapat membingungkan pembaca yang tidak awas akan maksudnya).

Marx juga memberikan waktu panjang untuk mengolah struktur Das Kapital dan hasil tidak seperti Grundrisse. Setiap konsep diantar,dijelaskan dan ditegaskan. Tatanan seperti ini, bagaimanapun mempunyai kekurangan. Sebagaimana ditulis Marx dalam “kata penutup” pada jilid satu edisi Jerman: ‘metode penyampaian tentu berbeda dari penelitian. Yang terakhir haruslah menyusun bahan secara rinci. ….., Hanya setelah pekerjaan ini selesai, semua gerak yang sesungguhnya dapat digambarkan secara memadai. Jika ini dikerjakan dengan baik….. barulah dapat ditampilkan hal yang seperti kita alami sebelumnya, yaitu suatu kontruksi a priori yang murni.

Masalah yang dihadapi Marx dalam pengembangan dan penyampaian analisanya tentang kapitalime, bertolak dari kerasnya permintaan teori sejarahnya. Dalam arti istilah itu, kapitalisme adalah suatu bentuk produksi yang dibatasi oleh suatu struktur dasar yang spesifik, mengenai hubungan-hubungan produksi yang melibatkan dua kelas, pemeras dan yang diperas. Dan kapitalisme adalah suatu bentuk produksi yang terakhir. Semua sosok penting masyarakat dibentuk oleh sistem produksi yang dominan (tidak seluruhnya ditentukan). Dan setiap bentuk-bentuk itu punya hukum-hukum yang melekat padanya. Ia memelihara atau mereproduksi struktur dasar dari sistem sampai pada suatu tingkat perkembangan yang membawanya kepada pergantian bentuk selanjutnya. Untuk memasang analisa kapitalisme ke bingkainya, Marx harus mengindentifikasi struktur itu. Teori ini dalam perkembangannya harus berpindah dari yang abtrak ke yang konkrit, dari konsep kapitalisme abtrak ke kapitalisme yang sungguh berlaku pada masyarakat tertentu.

Metode penyelidikan atau proses penelitian tidak dapat mengikuti pola ini. Konsep-konsep abstrak tidak dengan sendirinya berlaku. Ia hanya dapat diuji dengan melihat apakah ia diperuntukan bagi pelukisan gerak aktual yang sebnarnya. Dan tidak melompat begitu saja dari kepala para teoritisi saja? Ia dikembangkan melalui proses yang menyakitkan, melalui uji coba pembenaran, telaaahan, menyadap dan mengkritik teori-teori yang ada. Dan mealui saling pengaruh antara teori dan bukti.

Metode presentasi akhirnya meniadakan catatan-catan hasil pergulatan lama dari metode penyelidikan. Presentasi berpindah dari yang abstrak ke yang kongrit, dari konsep-konsep dasar ke teori-teori yang sudah diurai. Konsep-konsep yang terlihat hidup dengan dirinya sendiri, membentangkan implikasi-implikasi nya selangkah demi selangkah. Dan terlihat ia seakan dihadapkan kita ada suatu konstruksi apriori murni, sebuah produk dari pemikiran abstrak. Memang ada saja bahaya untuk terjerembab ke lembah idealisme Hegel, ke lembah kenyataan yang dikuasai pemikiran. Marx, sudah tentu dengan sendirinya menghindari perangkap itu. Ia hanya berharap agar gerak yang aktual terlukis secukupnya. Pembaca modern Das Kapital lebih mungkin menjalani kesalahan sebaliknya, menolak teori sebagai perangkat yang sewenang-wenang. Diperlukan kesabaran mengikuti Marx sampai pada titik dimana teori-teorinya sudah cukup berkembang untuk diterapkan pada dunia masalah nyata.

Ada dua aspek dari susunan presentasi Marx yang memerlukan ulasan. Pertama, ia memberi tekanan pada hubungan khusus produksi kapitalis. Kapitalisme (produksi oleh pekerja upahan yang dikerjakan oleh kapital), merupakan suatu bentuk khusus dari produksi komoditi (untuk dijual) yang pada dirinya sendiri adalah satu bentuk masyarakat manusia. Marx memperbedakan dengan sangat teliti konsep-konsep yang diterapkan pada semua bentuk masyarakat dengan konsep yang diterapkan bagi masyarakat yang memproduksi komoditi dan kapitalisme. Susunan-susunan itu mempunyai akibat-akibat penting bagi cara itu di konsepsi itu dikemukakan. Nilai misalnya, di rumuskan dalam Bab I. Ia memainkan peranan fundamental bagi analisa keseluruhan. Ia tidak dapat dikaitkan dengan harga pasar, sampai pembentukan harga pasar didalam sistim kapitalis dibahas. Dan itu tidak sampai jilid tiga. Kedua metode presentase Marx logis. Tidak historikal. Karakteristik dasar kapitalisme tidak atau belum dibahas sampai jilid satu. Sedang penggulingannya di masa datang hanya disinggung sambil lalu. Das kapital adalah telaah tentang bentuk produksi kapitalis, bukan ikhtisar dari pandangan-pandangan Marx.

Jilid satu Das kapital diselesaikan dan terbit tahun 1867. Kesehatan Marx tahun itu memburuk. Waktunya disita oleh masalah-masalah politik yang mendesaknya. Dan tidak banyak kemajuan ia buat untuk jilid dua dan tiga. Ketika Marx meninggal tahun 1883, engels ditinggali tumpukan naskah yang tak terbaca, dari tahun 1860 an. Jilid dua dihimpun dari bagian rancangan naskah dan diterbitkan pada tahun 1885., dalam hal mana pekerjaan editing patut di hargai. Tetapi engels juga menua pada saat itu. Ia dihadapi jilid tiga sebagai yang amat berat, karena keadaanya yang belum selesai ketika Marx meninggal. akhirnya dalam tahun 1884 buku itu terbit. Tiga puluh tahun sesudah ia ditulis.

LATAR BELAKANG EKONOMI

Das kapital, pada pokoknya adalah karya teori, maksudnya sebagai dasar untuk menganalisa masyarakat ekonomi kapitalis mana saja dan kapan saja. Marx sudah tentu mengambil contoh-contoh dari zamannya. Dan asumsi-asumsi yang cocok dengan masanya memainkan peranan penting dalam bagian-bagian teoritis teoritis karya Marx itu.. Secara khusus Marx mrnganggap sebagai kebenaran bahwa perusahaan kapitalis perorangan dan relatif kecil, tidak atau sedikit saja dapat mengontrol harga-harga produk mereka. Atau bahkan tidak sama sekali. Mereka harus menjualnya di pasar. Sebuah sistim yang sangat luas, produsen-produsen yang monopolistik haruslah dianalisa dengan cara yang berbeda. Marx memang telah meramalkan timbulnya perusahaan-perusahaan besar. Tapi tugas untuk membangun teori untuk itu, ditknggalkan untuk penerus-penerusnya. Teori moneter Marx juga banyak berakar pada abad ke 19. Bagi Marx uang didaarkan pada emas.

Das kapital akan sangat mudah dipahami jika pembacanya ingat pada hal-hal yang membedakan ekonomi Marx dan ekonomi zaman kita kini. Banyak contoh marx datang ke inggris. Sebagaimana dijelaskannya kepada para pembaca jerman, Inggris adalah tanah `klasik` dari kapitalisme.Bangsa kapitalis pertama dari zaman itu, paling maju dan paling baik terdokumentasi (seperti banyak orang jerman, Marx sudah terbiasa mengatakan `england ` ketika ia menyebut `Britain` dan banyak juga contohnya yang berasal dari Scotland).

Produksi kapitalis dibentuk oleh dipekerjakannya pekerja upahan yang mengerjakan bahan-bahan dan peralatan yang disediakan sang kapitalis. bentuk organisasi begini, dominan diinggris dan pertengahan abad ke 19. Tapi sekarang dimana-mana ia ada. Bahkan Amerika serikat utara adalah negara yang dominan petani kecil. Di Inggris, sebahagia besar penghasilan dihasilkan oleh pekerja perorangan yang bekerja sendiri -self-employed. Mereka bekerja sama dengan orang yang bekerja di rumahnya sendiri-sendiri atas lebih kuat-out work, tergantung kepada seberapa kuatnya para saudagar menyediakan bahan dan membeli produk mereka. Industri seperti textil,pabrik yang dominan menggunakan uap, adalah pengucualian. Apabila Marx memperkenalkan `industri modren ` maka ia melukiskannya sebagai sesuatu yang baru dan luar biasa.

Inggris adalah negeri kap[italis paling maju dan kaya. Tetapi dari ukuran mocren ia tergolong miskin. sedikit saja terdapat bahan untuk melakukan bandingan yang eksak dengan kondisi-kondisi modren. Tanpa mempersoalkan bahwa jam kerja diinggris amat panjang dan amat menyedihkan rendahnya. Marx merujuknya dengan bukti-bukti yang dikutipnya dari sana sini.

Perdagangannya kecil dalam ukuran modren. perusahan-perusahaan biasanya dikontrol oleh perorangan (keluarga atau patnership) yang mewlakukanya langsung berhadapan dengan buruh-buruh dilantai-lantai pabrik. Para kapitalis perorangan itu tidak atau sedikita sekali punya kontrol atas pasar mereka. Maka itu mereka menjual saja produk mereka pada hjarga pasar yang berlaku, atau tidak sama sekali. Memang benar -benar sukar untuk menerangkan mengapa persaingan tidak sama sekali meniadakan laba. Teori nilai lebih Marx dirancang untuk menjawab masalah itu. Sejumlah kapitalis besar, terutama kereta api diorganisasi, sebagai suatu korporasi join -stock company dengan andil-andilnya dapat dipindah tangan disertai manejemen yanmg profesional. Mereka memang menunjukkan sesuatu yang bakal datang, walau Marx mengharap rubuhnya kapitalisme memotong garis perkembangan ini.

Pertanian masih merupakan industri terbesar di Inggris, dan ia unik bagi dunia abad ke 19. Pertanian yang di organisasi dengan garis-garis kapitalis, dengan para pemilik tanah pemungut sewa, para pekerja upahan yang mengerjakan pertanian, sedangkan para kapiotalis pertanian, sedanga para kapitalis pertanian berada diantara kedua golongan tersebut. Menurut Marx, terciptanya pertanian kapitalis, telah melemparkan para petani ke kedudukan penting dalam pertumbuhan induistri kapitalis.

Sistim keuangan baik di Inggris, maupun disebahagian besar dunia lainnya, didasarkan pada emas. Bank-bank milik perorangan mengeluarkan uang kertas, hanya dengan janji nakan mambayar jumlah yang tertera pada uang kertas. Bank Inggris masih mencatatnya ” saya berjanji akan membayar kepada pemegang ………jumlah yang diminta ….” Dengan bubuhan tanda tangan kasir kepala. Tapi ia sekarang merupakan katya-kata kosong. Tapi di zaman Marx., tidak. Bank Inggris kemudian dimiliki oleh perorangan dan tampil sebagai pusat sisitim keuangan. Karena usianya yang tua sebagai bank pemerintah. Uang kertasnya beredar diseluruh negeri dan dapat ditukar dengan emas. marx sering mengambarkan jumlah uang dengan istilah mata uang Inggris dizaman itu. Pounsterling dibagi dalam 20 shilling dan inipun dibagi dalam 12 pence dsb.

Transakssi antar perusahaan kapitalis sebahagian besarnya dilakukan melalui `bill of change ` -rekening-, suatu sistim yang sampai sekarang kurang lebih digunakan. Apabila Marx berbicara mengenai `sisitim credit` hal seperti itulah yang dimaksudkan.Apabila A menjual barang kepada B, si A dapat memberi kredit kepada si B dengan menuliskan rekening, suatu permintaan pembayaran di masa yang datang yang sudah ditentukan, yang diterima si B dengan tanda-tangannya.. Dari pada menunggu uangnya (cair), A dapat memberikan rekening itu kepada seseorang yang punya uang (sehingga rekening tagihan itu dapat beredar sampai pada tingkat menempati kedudukan uang) atau orang dapat menjualnya ke Bank. dengan mengambil open rekening, berarti Bank memkinjamkan uangnya sampai rekening itu dibayar dan akan memotong bunga dari padanya. Inilah yang dinamakan discount-potongan -atas rekening.Banyak perusahaan mengatur agar rekeningnya dibayar oleh bank london. Dalam keadaan demikian dan rekening demikian berakhir di bank tersebut. selanjutnya rekening-rekening demikian dapat ditunda pembayarannya. Inilah keterangannya mengapa Marx sering mengatakan bahwa sistim kredit adalah suatu cara untuk ekonomisasi uang. semenjak itu, rekening boleh dikatakan sudah digeser oleh penggunaan cek dengan menstransper defosito -defosito, sebuah sistim yang hampir tidak pernah di singgung Marx. Para ahli ekonomi modren memberlakukan defosito bank sebagai bentuk uang, hal yang tidak pernah dfilakukan Marx.

Marx memperlakukan perkembangan kapitalisme Inggris sebagai sesuatu yang sudah dewasa. Marx yang tumbuh di Trir, yang masa itu adalah kota pedalaman yang boleh dikata tak dija,ah kapitalisme industri. satu dari masalah ekonomi yang ia tulis masa itu adalah masalah hak petani untuk mencari dan mengumpul kayu bakar dihutan-hutan. Di Prusia dalam 1836, hampir sepertiga pelanggaran hukum terjadi mengenai perburuhan di hutan-hutan. Bagi Marx, perkembangan kapitalisme dini, bukanlah masalah sejarah murni. Memang di eropa barat masa itu, secara keseluruhan, perkembangan kapitalismenya tidak semaju di inggris. Produk pabrik kurang meluas. Peranan pedagang lebih besar dan petani pertanian lebih dominan tapi bagi Marx, jelas (walau tidak banyak teman seangkatannya) Inggris yang kapitalis telah menunjukkan jalan yang ditempuh seluruh eropa.

Bagian dunia lainnya bahkan lebih jauh dari model kapitalisme murni yang terdapat dalam Das kapital. Perbudakan di America serikat, perhambaan petani Rusia, berlanjut samapai 1860 an, ketika Das kapital ditulis. Di India dan Tiongkok malah bentuk produksi lain yang berlaku, yang oleh marx dinamakan `bentuk ` Asia `.(penelitian selanjutnya bahkan menyangsikan gambaran Marx tentang masyarakat Asia). Masyrakat Afrika tidak dikenal di Eropa di zaman Marx. Marx bahkan dengan yakin mengatakan bahwa seluruh dunia berubah pertama-tama oleh kapitalisme, kemudian oleh sosialisme, merupakan lompatan pemikiran yang luar biasa dari yang dapat dibayangkan di zaman Marx hidup.


JILID SATU

PRODUKSI KAPITALIS

Bagian 1

KOMODITI DAN UANG

Beberapa bagian awal Das Kapital, benar-benar amat sulit dimengerti. Sebagian kesulitan disebab pada gaya Marx yang lebih bersifat Hegelian. Maka itu ia semakin musykil, kebanding bagiang yang belakangan. Yang lebih mendasar ialah ia mencoba mengemukakan setiap konsepsi secara urut Menjelaskannya secara teliti sebelum melanjut. Ini adalah pekerjaan yang hampir-hampir tidak mungkin. (konsep apa yang hendak anda pakai untuk menjelaskan konsep pertama ?). Itulah yang membuat bagian-bagian awal Das Kapital amat abstrak. Dibagian paling awal Bab I, Marx sudah mulai mempersoalkan “nilai didalam pertukaran” tanpa sesuatu tegangan dari proses pertukaran yang sebenarnya. Bab II, pertukaran didahulukan. Baru sesudah itu ihwal uang. Sejumlah konsep yang dijelaskan dibagian awal, tidak penuh dapat dipahami guna digunakan pada bagian-bagian yang belakangan. Barangkali terlebih pada pembacaan pertama terhadap bab-bab awal ini dibaca sekilas dan kemudian kembali lagi membacanya.

Bab I.

Komoditi.

Seksi I.

Dua faktor komoditi: nilai pakai dan nilai

Sebuah sistim kapitalis punya dua wajah. Pertama, ia, suatu sistim produksi komoditi, dimana barang diproduksi dengan dikontrol oleh sikapitalis yang mempekerjakan para pekerja. Marx hanya mengupas aspek pertama pada tahap awal bahasanya. Hal pekerja dan sang kapitalis ini baru terdapat dibeberapa bab kemudian.Uang, juga ditempatkan dilatar belakang pada mulanya. Takaran ditampilkan seakan-akan suatu barang ditukarkan secara langsung dengan barang lainnya.

Sebuah komiditi dijelaskan sebagai suatu yang dipertukan dengan atau komoditi lainnya. Semua komoditi punya nilai-pakai, yang memenuhi sejumlah keinginan dan kebutuhan, langsung atau tidak. Sipat kebutuhan itu, pada tahap ini belum relevan dibahas. Disini tidak dipersoalkan penilaian yang bersipat moral. Senjata misalnya adalah pemenuhan kebutuhan masyarakat yang perang dan maka itu mengandung nilai-nilai dan seterusnya.

Perbedaan antar nilai-pakai dan nilai tukar adalah serangkaian perbedaan yang pertama-tama di kaji marx dengan teliti dalam Das kapital ; perbedaan dari aspek-aspek kehidupan manusia yang berlaku umum bagi semua bentuk masyarakat dan perbedaan-perbedaan yang spesifik bagi jenis masyarakat tertentu. Semua masyrakat, penghasil, nilai pakai tertentu yang lainnya, karena manusia butuh makanan, tempat bernaung dan sebagainya.yang harus dipenuhi. Lembaga pertukaran karenanya hanya terdapat pada sejumlah masyarakat dimana komoditi dihasilkan. Tanpa pewrtukaran, tentu tak ada nilai tukar. Semua komoditi mestilah mengandung nilai pakai. Ada banyak barang punya nilai pakai, namun tidak dapat ditukarkan dengan barang lain. Karenanya ia bukan komiditi.

Pertukaran menciptakan hubungan kwantitatif dengan berbagai hubungan komiditi. X unit suatu komiditi dapat ditukarkan dengan y unit komoditi lainnya. Untuk memungkinkan adanya perbandingan kwantitatif mengenai hal ini, Marx menegaskan bahwa kedua komoditi ini mestilah mengandung sejumlah subtansi yang sama bukan merupakan suatu (property) yang bersipat fisik, seperti berat, sebab sesuatu yang bersipat fisik bersangkut paut dengan nilai-pakai komoditi, maka subtansi yang sama dari produk itu adalah hanya produk dari kerja-kerja adalah subtansi dari nilai, seharusnya dibenarkan oleh bagaimana ia dipergunakan marx didalam sistimnya secara keseluruhan.(I)

Berikutnya marx membahas betapa pentingnya nilai itu. Seberapa banyak nilai yang dimiliki oleh suatu komoditi ? katanya, nilai suatu komoditi tergantung pada banyaknya jumlah kerja sosial yang diperlukan yang tercakup oleh komoditi itu. Dan itu adalah lama kerja yang diminta untuk memproduksi komoditi itu, di dalam syarat-syarat kerja yang normal untuk menghasilkannya dan dengan taraf rata-rata keterampilan serta intensitas yang lazim masa itu` (hal nilai sesuatu barang tertentu tidak tergantung pada seberapa waktu kerja dibutuhkan dan berada pada barang tersebut, tetapi tergantung pada lamanya waktu kerja yang secara sosial dibutuhkan nilai itu, dan bersipat soaial, bukan induvidual. Pekerja yang lamban menghasilkan kurang dari pekerja yang cepat..` nilai` adalah istilah yang sepenuhnya bersipat tehnis, tanpa kandungan etika apapun. Manakala sebuah bom dan sebuah lukisan di produksi dengan jumlah kerja sosial yang sama, maka kedua barang itu akan bernilai sama. Disini tidak ada penegasan bahwa kedua barang itu secara moral sama-sama tidak dikehendaki. Marx, tidak secara kebetulan menerangkan bagaimana nilai sesuatu komiditi yang diproduksi bersama-sama dengan komoditi lainnya seperti wol dengan daging domba yang diproduksi melalaui memebesarkan domba. Seberapa banyak kerja yang akan diperuntukkan bagi menghasilkan wol dan seberapa pula untuk dagingn domba ?.

Seksi II

WATAK RANGKAP KERJA YANG DIKANDUNG KOMODITI

Beda antara nilai pakai dan nilai tukar kini dapat dilihat melalui perbedaan antara dua aspek kerja: kerja berguna dan kerja abstrak..kerja berguna adalah kerja yang menghasilkan nilai pakai. Itu adalah keharusan alamiah yang abadi yang ditimpakan pada semua masyarakat (hal-42-43). Sebegitu banyak ragam nilai-pakai yang dihasilkan, sebegitu banyak pula ragam kerja berguna dilibatkan untuk memproduksi barang-barang itu. Didalam masyarakat penghasil komoditi terdapat pembagian kerja yang rumit diantara orang-orang yang melakukan bermacam-macam pekerjaan yang saling mempertukarkan produk mereka. Tanpa pembagian kerja tidak akan ada produksi atau pertukaran komiditi. Karena satu-satunya titik pertukaran adalah memperdagangkan satu komiditi dengan komoditi lainnya, maka kerja berguna dapat, pada dasarnya berlangsung lestari tanpa sesuatu pembagian kerja (robinson crusoe with no man Friday).

Dan pembagian kerja dapat terjadi dan ada tanpa mempertukarkan produksi dipasar (didalam masyarakat yang hanya mencukupi kebutuhannya sendiri, misalnya) ada sebuah ungkapan marx mengenai ` pembagian kerja sosial` yaitu: pembagian kerja sosial antara produsen yang merdeka. Mereka menjual produksi mereka dikalangan mereka sendiri sebagai hal yang ditentang mereka sendiri., sepertinya ia berlaku dikalangan keluarga,, pabrik atau suku primitif. Dan marx juga menunjukkan bahwa alam sebagaimana juga tenaga kerja haruslah ada untuk memproduksi nilai pakai. Dan tidak ada kesan yang mengatakan bahwa tenaga kerja adalah sumber daya yang tidak berbantuan bagi kesejahteraan Dalam arti nilai pakai seumumnya.

Bagaimanapun, didalam masyarakat penghasil komoditi, berbagai bentuk kerja berguna mempunyai kesamaan-kesamaan sehingga mereka menghasilkan nilai tukar. Sepanjang tenaga kerja itu menghasilkan nilai, ia dinamakan kerja abstrak, ` biaya dari otak, syaraf, dan otot-otot…. Kerja manusia seumumunyan`, tidak soal nilai pakai apa yang dihasilkannya. (ia harus menghasilkan nilai pakai apa saja, karena komoditi tidak akan punya nilai-tukar tanpa adanya nilai pakai)

Kerja trampil atau ahli adalah sebuah masalah. Marx membantah bahwa kerja ahli dapat dihitung sebagai berlipat kali kerja sederhana, sehingga kerja ahli dapat dihitung sebagai dua kali kerja sederhana, suatu kerja abstrak.masalah kunci disini adalah apakah yang menentukan maka sejumlah jam kerja sederhana, sama dengan jam kerja trampil atau jam kerja ahli. Marx lalu menegaskan bahwa penyamaan bukanlah masalah. Karena ia selalu ia begitu, `melalui suatu proses sosial yang berlangsung dibelakang panggung atau produsen` (hal. 44) lewat pertukaran barang hasil kerja trampil dan tidak. (upah disini, sudah tentu belum menjadi persoalan). Alasan atau sebab-sebabnya merupakansebuah lingkaran (nilai ditentukan oleh isi atau jumlah tenaga kerja, sedangkan ekwipalen jumlah kerja, dihitung dari pemantauan nilai tukar). Pandangan ini telah pernah menjadi sasaran kritik. 3)

Nilai dari suatu komiditi tidaklah tetap untuk sepanjang waktu atau inheren dengan dengan ada didalam komoditi itu sendiri. Manakala produktivitas kerja meningkat, untuk memproduksi sesuatu pobyek, maka kerja yang ia butuhkan menjadi berkurang. Karena itu, nilainya jatuh. Dengan kata lain, nilai yang diciptakan oleh sesuatu jam dari rata-rata kerja, adalah selalu sama, walaupun jumlah nilai yang dihasilkan pada jam itu dapat berubah

Konsepsi nilai yang digelar disini tidak begitu jelas. Apakah sungguh nyata (dalam sejumlah arti) apa yang diutarakan marx sebagai penemuannya itu? Ataukah ia telah menyimpang dengan cermat, kebanding para pendahulunya ? ataukah ia sebagai konsepsi (yang ia temukan dan jelaskan) untuk menjelaskan dan menganalisa kapitalisme ? kita dapat membaca teks bukunya dengan salah satu cara.

Didalam setiap masalah, marx tidak menegaskan bahwa barang, sesungguhnya dipertukarkan dalam ratio yang berimbang, sesuai dengan nilai-nilainya yang relatip. Jika, katakanlah, segantung gandum dan sebuah mantel berisi sejumlah kerja sosial yang diperlukan, sama adanya. Karena itu, maka ia tidak dipertukarkan satu lawan satu didalam prakteknya. Didalam bagian-bagian teoritis dari dua jilid pertama, marx secara tersendiri menganggap bahwa harga adalah berimbang dengan nilainya. Dan sebagai penyederhanaan dan didalam jilid bagian dua, ia menerangkan lebih lanjut bagaimana harga-harga dihubungkan dengan nilai. Didalam dua jilid pertama, hal itu dibahas sesempatnya, bersipat agak tidak formal. Disini marx mempersoalkan masalah penyimpangan dari ratoi harga pasar dari ratio nilai.

Seksi III

BENTUK NILAI ATAU NILAI TUKAR

Berikutnya Marx membicarakan cara nilai itu menyatakan dirinya kedalam nilai-nilai tukar komoditi. Ia mulai dengan ekwivalensi sederhana dua komoditi dan mengmbangkannya sampai pada ungkapan nilai didalam terminologi harga uang. Kesulitan besar dalam membaca bagian ini melihat betapa repotnya itu.Mengapa maka Marx memberi perhatiaan begitu hebat atas masalah ini ? itu mungkin disebabkan ia merasa berkewajiban untuk menguraikan semua prosudurnya secara menyeluruh karena pencariannya bagi `suatu standar yang tak bermacam-macam` dari nilai. Hal, yang sangat diperhatikan para ahli ekonomi saat itu, yang sebahagian besar kini telah dilupakan orang karena sesunggiuhnya masalah itu lebih sederhana dari pada yang dilihat marx dan generasinya.

Dan adalah penting juga untuk mengingat bahwa setiap harga yang benar-benar menyeleweng dari nilainya, akan ditentang disini. Marx selanjutnya terlibat dengan masalah kwalitatif, yang menyangkut masalah nilai-nilai tukar apa dan dengan unit-unit barang apa ia ditakar. Namun ia tidak memperhatikan masalah kwantitatif, yaitu seberapa banyak suatu barang diperdagangkan dibanding lainnya.

Pertama-tama Marx mengabil kesamaan dari nilai dua komoditi (20 yar linen sama dengan satu baju jas). Kemudian ia memperbedakan bentuk relatif dari nilai relatif dari linen dengan yang lainnya, disamping persamaan relatifnya. Disini jas sebagai suatu unit ukuran dari nilai. Barang-barang itu dapat dipertukarkan (satu jas sama dengan 20 yar linen).

Kerja, sebagai subtansi nilai tidak tampil pada kedua barang itu, karena pertukaran adalah selalu menyangkut pertukaran dari suatu komoditi dengan yang lain. Maka itu nilai komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai pencatat hubungannya dengan niali-nilai komoditi lain. Nilai linen pada jas dapat berubah karena nilai linen itu sendiri berubah. Atau karena nilai jas berubah, atau karena kedua-duanya berubah.

Menjelang akhir bahasannya mengenai bentuk elementer nilai adalah bentuk frimitif juga, ketika mana produk kerja tampil secara historis sebagai komoditi (hal 16). Penjelasan marx mengenai ini disusun didalam tatanan yang dibimbing oleh logoikaa dan teori. Tapi dalam hal perkembangan sejaraah, pada beberapa kasusnya (hanya beberapa), ia tampak cenderung untuk melihatnya dalam tatanan yang sama.. Maka itu nilai komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai pencatat hubungannya dengan niali-nilai komoditi lain. Nilai linen pada jas dapat berubah karena nilai linen itu sendiri berubah. Atau karena nilai jas berubah, atau karena kedua-duanya berubah.

Menjelang akhir bahasannya mengenai bentuk elementer nilai adalah bentuk frimitif juga, ketika mana produk kerja tampil secara historis sebagai komoditi (hal 16). Penjelasan marx mengenai ini disusun didalam tatanan yang dibimbing oleh logoikaa dan teori. Tapi dalam hal perkembangan sejarah, pada beberapa kasusnya (hanya beberapa), ia tampak cenderung untuk melihatnya dalam tatanan yang sama.4)

Masalahnya disini ialah bahwa pertukaran pertama-tama sebagai barter dan kadang-kadang saja.

Didalam sisitim produksi komoditi yang telah berkembang, apa saja dapat ditukarkan dengan sesuatu yang lain. Marx melangkah lebih maju melalui bentuk relatif dari nilai yang dikembangkan` menuju bentuk dari nilai` dimana nilai semua komoditi sisa yaitu ` ekwivalensi yang universal `. Pada prakteknya, sejumlah komoditi tertentu secara soial diidentifikasi sebagai ekwivalensi universal dan ia berlaku sebagai uang. Marx menganggap uang itu akan menjadi komoditi dengan sendirinya, karena adanya nialai sebagai hasil kerja. Dizaman Marx, emas berlaku sebagai standar uang dan ia menganggap uang kertas yang tidak dijamin oleh emas, merupakan suatu penyim pangan dari norma. Tetapi dewasa ini, uang sudah tidak bisa mendapat dukungan emas(atau yang lainnya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: